Uki Media Network: SEJARAH
Headlines News :
'

Showing posts with label SEJARAH. Show all posts
Showing posts with label SEJARAH. Show all posts

GUNUNG TAMBORA

Written By Unknown on Sunday, March 31, 2013 | 3:24 AM

Menjulang pada singgasana langit…
Menantang membusung dada…
Kau tumpahkan isi dunia..
Luluh lantakkan semua dengan amarahmu…
Wahai tambora..kiamatmu begitu mahadahsyat…
Hancurkan bumi fana..dalam pesona cincin api…
Membentuk bumi baru..
Atas letusanmu..



Sumbawa adalah sebuah pulau yang terletak di Provinsi Nusa Tenggara Barat. Sebuah pulau yang begitu indah dihiasi oleh lautan dan gunung-gunung tinggi menjulang. Saya adalah seorang anak yang terlahir sebagai anak asli Sumbawa. Hari-hari saya diisi oleh keindahan gunung-gunung di Sumbawa. Salah satu gunung tertinggi di pulau Sumbawa yaitu gunung Tambora. Sebuah gunung yang tingginya mencapai 4.300 meter. Ada banyak sekali kedahsyatan gunung ini yang diceritakan secara turun temurun di Sumbawa. Rasa penasaranpun membelenggu pikiran saya hingga saya mulailah ekspedisi untuk mencari tahu pesona dari gunung Tambora ini.

Gunung Tambora (atau Tomboro) adalah sebuah stratovolcano aktif yang terletak di Sumbawa,Indonesia. Gunung ini terletak di dua kabupaten, yaitu Kabupaten Dompu (sebagian kaki sisi selatan sampai barat laut, dan Kabupaten Bima (bagian lereng sisi selatan hingga barat laut, dan kaki hingga puncak sisi timur hingga utara), Provinsi Nusa Tenggara Barat, tepatnya pada 8°15′ LS dan 118° BT. Gunung ini terletak baik di sisi utara dan selatan kerak oseanik.

Pada tahun 1815 kaldera gunung Tambora mulai menampakkan kedahsyatannya, kaldera tersebut mulai bergemuruh dan menyebabkan awan hitam. Suara erupsi dari letusan gunung tambora ini bagaikan raungan dari raksasa yang begitu keras bahkan sampai terdengar hingga 2.600 km dari gunung Tambora. Gunung Tambora mulai memuntahkan materialnya ke bumi. Letusan ini bagaikan kiamat yang menghancurkan dunia. Betapa tidak?? Gunung Tambora memuntahkan lebih dari satu setengah juta ton (400 km³) debu vulkanik dan sulfur ke lapisan atmosfer. Erupsi ini merupakan erupsi terbesar,lebih besar dari erupsi dahsyat sebelumnya yang berasal dari gunung Toba. Bahkan letusan gunung Tambora ini jauh lebih dahsyat dari letusan gunung api Krakatau dalam sejarah.
Pada saat kiamat kecil dari gunung tambora ini, kekuatannya dapat menghancurkan Tumbuhan dan makhluk-makhluk hidup yang lain di pulau tersebut. Menyebarkan berbagai macam penyakit dan bencana kelaparan besar-besaran di negara bagian utara. Tak ada satupun manusia yang selamat dari amukan gunung Tambora ini. Bahkan letusannya tidak hanya meluluh lantakkan Indonesia namun juga dunia. Iklim dunia berubah drastis akibat letusan ini. Benar-benar kiamat yang menghancurkan dunia.

Letusan Gunung Tambora ini menimbulkan efek yang begitu dahsyat. Kedahsyatannya ini terasa hingga letusannya mulai mereda. Walaupun letusan tak lagi terjadi, namun partikel abu masih jatuh 1-2 minggu setelah letusan, selain itu terdapat partikel abu yang tetap berada di atmosfer bumi selama beberapa bulan sampai beberapa tahun pada ketinggian 10-30 km. Angin bujur menyebarkan partikel tersebut di sekeliling dunia, membuat sebuah fenomena. Matahari terbenam yang berwarna dan senja terlihat di London, Inggris antara tanggal 28 Juni dan 2 Juli 1815 dan 3 September dan 7 Oktober 1815. Pancaran cahaya langit senja muncul berwarna orange atau merah di dekat ufuk langit dan ungu atau merah muda di atas. Sampai saat ini, kaldera dari letusan Tambora ini, merupakan kaldera terluas yang ada di dunia. Akibat letusan yang maha dahsyat ini, ketinggian Tambora yang mulanya mencapai 4.300 meter, kini hanya 2.851 meter.

Sampai saat ini gunung Tambora masih menyediakan pesona yang begitu memikat, hamparan pasir yang begitu luas, juga pesona bunga Edelweiss kerdil sekitar 0,5m sampai 1,5m dengan jarak masing-masing berjauhan. Bunga keabadian cerminan keindahan gunung ini.

Sebagai remaja asli Sumbawa, saya hanya bisa mendengar sejarah kedahsyatan letusan dari gunung Tambora ini. Saat ini saya hanya bisa menyaksikan napak tilas dari letusan sang Tambora. Namun saya akan tetap mencari tahu dan mempelajarinya. Saya akan mempersembahkan sebuah ”Lawas” (sajak dalam bahasa Sumbawa) untuk gunung Tambora yang berbunyi :
Lok tingi poto Tambora

Mara ngibar bela awanjina maras kewa balong
Lawas ini berisi pujian akan keindahan gunung Tambora. Karena gunung Tambora adalah sejarah, gunung Tambora adalah cerita, dan gunung Tambora adalah kekayaan alam pulau kami. Pulau Sumbawa yang begitu indah dengan pesona Tambora di dalamnya .

SEJARAH AWAL BERDIRI NEGARA JEPANG

Written By Unknown on Wednesday, January 9, 2013 | 7:03 AM


Negara Jepang adalah negara yang tidak begitu luas dibandingkan dengan Indonesia. Namun Jepang sudah mampu mengalahkan negara-negara Asia lainnya.Luas negara Jepang sendiri adalah + 378.000km2 (ada pula yang menyebutkan hanya 370.000 km2). Itu berarti hanya 1/25 (seper dua puluh lima) dari negara Amerika.

Sejarah Negara Jepang
 
Jepamg dimulai pada tahun 1603. Pada saat itu, Ieyasu yang telah berhasil menyatukan seluruh Jepang, membangun kekaisarannya di Edo, sekarang dikenal dengan Tokyo. Ieyasu mencoba membangun setiap aspek di negara ini sehingga negara ini mampu berdiri sendiri tanpa bantuan dari negara lain. Hasil dari politik yang dilakukan Ieyasu ini kemudian dimanfaatkan oleh Kekaisaran Tokugawa pada tahun 1639 dengan lahirnya Politik Isolasi. Latar belakang dari lahirnya Politik Isolasi ini banyaknya misionaris Kristen yang datang menyebarkan Agama Kristen. Berkembangnya Agama Kristen akan menjadi mimpi buruk bagi kekaisaran, oleh sebab itu Kaisar mengambil langkah untuk tidak berhubungan dengan negara asing, kecuali dengan Pedagang-Pedagang Belanda yang dinilai menguntungkan. Itu pun hanya dilakukan di satu tempat, yaitu di Pulau Dejima, Nagasaki.
Sejarah Awal Berdiri Negara Jepang
Politik Isolasi ini bertahan lebih dari 200 tahun sampai pada tahun 1853, Komodor Perry dari angkatan laut Amerika Serikat dengan 4 buah kapalnya memaksa Jepang untuk membuka diri kembali terhadap dunia luar.

Kekaisaran Tokugawa berakhir pada tahun 1867, dan digantikan dengan Kekaisaran Meiji. Pada zaman ini Jepang banyak mengalami kemajuan. Dan hanya dalam beberapa decade mampu menyejajarkan diri dengan negara-negara barat. Pada zaman ini pula Edo berganti nama dengan Tokyo, dan kasta-kasta yang ada pada zaman feudal dihapuskan. Restorasi Meiji benar-benar mampu menggerakkan seluruh aset negara yang ada, sehingga pada beberapa peperangan, Jepang dapat menang. Hasil dari kemenangan itu antara lain adalah dengan direbutnya Taiwan dari Cina pada tahun 1895 dan Sakhalin selatan pada tahun 1905 dari Rusia. Setelah itu Jepang pun mulai membesarkan daerah jajahannya dengan merebut korea pada tahun 1910. Kaisar Meiji meninggal pada tahun 1912 dan mewariskan tahta pada Kaisar Taisho, dan dimulailah Kekaisaran Showa.

Kekaisaran Showa ini dimulai dengan kondisi yang menjanjikan. Industri yang terus berkembang, dan kehidupan politik yang telah mengakar di parlemen-parlemen pemerintahan. Namun masalah-masalah baru terus bermunculan. Krisis ekonomi dunia menekan kehidupan rakyat. Rakyat mulai tidak percaya terhadap pemerintah karena banyaknya skandal. Hal ini dimanfaatkan oleh para ekstrimis dan berhasil menomorsatukan militer di negara ini. Jepang pun mulai terlibat pada banyak peperangan. Fungsi dari Parlemen pun semakin berkurang. Semuanya ditangani militer. Hingga pada akhirnya pecahnya Perang Pasifik pada tahun 1941.

Pada tahun 1945, Jepang menyerah pada sekutu akibat semakin melemahnya kekuatannya setelah Hiroshima dan Nagasaki dilumpuhkan. Dalam masa pendudukan sekutu ini banyak hal yang diubah. diantaranya adalah diberikannya hak kepada wanita untuk memberikan suara pada pemilu, dan juga kebebasan untuk mengelurkan pendapat, memeluk agama, dan lain-lain.

Pada tahun 1951, setelah ditandatanganinya Perjanjian Perdamaian San Fransisko, Jepang mendapatkan haknya kembali untuk menjalankan politiknya kembali.

Satu tugas besar menunggu, yaitu mengangkat kembali negara ini dari keterpurukannya akibat perang. Dalam masa tidak lebih dari 10 tahun, dibantu dengan negara-negara luar, Jepang mampu tegak kembali dan bersaing di pasar internasional. Satu bukti dari kebangkitannya itu adalah dengan menjadi tuan rumah Olimpiade Tokyo 1964, yang juga menjadi symbol atas kebangkitan Jepang. Tidak hanya itu, pada tahun 1975 Jepang sudah diakui menjadi negara maju dan masuk dalam kelompok negara G-7.

Referensi:
http://bukucatatan-part1.blogspot.com/2008/10/sejarah-jepang.html
http://id.shvoong.com/social-sciences/education/1870473-sejarah-jepang/

SEJARAH HARI LAHIRNYA KOTA JAKARTA

Written By Unknown on Saturday, December 29, 2012 | 8:00 AM

SEJARAH HARI LAHIRNYA KOTA JAKARTA



Oleh A.Heuken (Dalam rangka menyambut ultah Jakarta ke 470)
Awal mula berdirinya beberapa kerajaan dan kota besar di bumi ini diliputi mitos. Kekosongan data sejarah diisi dengan cerita legendaris. Demikian halnya dengan Roma, yang katanya didirikan oleh Romulus dan Remus, kakak-beradik yang dibesarkan oleh seekor serigala. Demikian juga diceritakan tentang negeri Matahari Terbit yang dikaitkan dengan keturunan dewi matahari, yang sampai kini menghiasi bendera kebangsaan Jepang. Menimbulkan polemik
Rupanya mitos semacam ini meliputi pula asal usul atau lahirnya Kota Jakarta, ibu kota tertua dari semua negara di Asia Tenggara, walaupun belum begitu tua jika dibandingkan dengan kota seperti Kyoto dan Thang-Long atau Hanoi umpamanya. Kalau demikian, atas dasar apa warga Jakarta merayakan hari jadinya yang ke-470 pada tahun ini? Sejarawan Abdurrachman Suryomomihardjo mengomentari keputusan Walikota Jakarta Sudiro (1953 - 1958) tentang hari jadi Jakarta sebagai "kemenangan Sudiro" yang berlandaskan "kemenangan Fatahillah" yang pastinya tidak kita ketahui. Pada tahun '50-an perdebatan tentang asal usul Jakarta memuncak dalam perang pena dua mahaguru, yaitu Dr. Soekanto dan Dr. Hussein Djajadiningrat. Polemik ini pun sudah menjadi sejarah yang dilupakan oleh sebagian besar penghuni Jakarta, yang dibuai terus dengan karangan-karangan resmi yang menampakkan asal usul ibu kota dengan begitu gamblang. Namun belum begitu lama Dr. Slametmulyana masih berpegang pada tesis bahwa nama Ja(ya)karta diturunkan dari nama adipatinya yang ketiga, yaitu Pangeran Jayawikarta, yang membela kotanya terhadap J.P. Coen, pendiri Batavia (1619), namun dikalahkan oleh saingannya dari Banten. Di balik berbagai teori yang kurang pasti ini apa yang pasti? Apa yang terbukti? Pertama, dokumen-dokumen tertua menyebutkan suatu permukiman di mulut Ciliwung bukan dengan nama Ja(ya)karta, melainkan Sunda Calapa. Dokumen tertua yang menyebut nama ini adalah Summa Oriental karangan Tome Pires, yang memuat laporan kunjungannya dari tahun 1512/15. Apakah Ma Huan, penulis laporan pelayaran armada Laksamana Zheng-Ho, yang kapal-kapalnya mengunjungi Pantai Ancol pada awal abad XV, mengenal Chia liu-pa (atau Calapa) belum dapat dipastikan kebenarannya. Direbut pasukan Cirebon Sebutan Sunda Calapa dipakai terus sampai pertengahan abad XVI (misalnya oleh A. Nunez, Lyro do pesos Ymdia, 1554) dan dimuat pada peta-peta Asia sampai awal abad XVII. Nama Ja(ya)karta untuk pertama kalinya disebutkan dalam suatu dokumen tertulis, yang berasal dari sekitar tahun 1553, yakni dalam karangan sejarawan Barros, yang berjudul Da Asia: Pulau Sunda adalah negeri yang di pedalaman lebih bergunung-gunung daripada Jawa dan mempunyai enam pelabuhan terkemuka, (Cimanuk) Chiamo di ujung pulau ini, Xacatara dengan nama lain (Karawang) Caravam, (Xacatara por outro nome Caravam), (Tangerang) Tangaram, (Cigede) Cheguide, (Pontang) Pontang dan (Banten) Bintam. Inilah tempat-tempat yang ramai lalu lintas akibat perniagaan di Jawa seperti pula di Malaka dan Sumatra .... (Barros, Da Asia decada IV, liv. 1, Cap XII, hlm. 77) . Jao de Barros (1496 - 1570) bekerja di Casa da India (1532 -1568) di Lisabon, tempat segala laporan dari Asia diterima dan diarsipkan. Meskipun karangannya tentang Asia Tenggara dari tahun 1553 menunjukkan keadaan yang sedikit lebih tua, kita tidak tahu persisnya dari tahun berapa. Karena itu nama Ja(ya)karta (dalam segala ejaannya) tidak terdokumentasi sebelum tahun 1550. Dokumen Indonesia pertama yang memakai sebutan "Jakarta" tidak mungkin berasal dari sebelum tahun 1602. Dokumen ini merupakan suatu "piagam" dari Banten, yang ditemukan van der Tuuk (1870). Meski demikian, nama Sunda Calapa tetap dipergunakan juga sampai akhir abad XVI, bahkan dalam berita pelayaran Belanda dari akhir abad itu. Walaupun tidak dapat diketahui dari sumber sezaman, kapan pelabuhan di mulut S. Ciliwung itu berganti nama dan mungkin juga penduduknya, bisa dipastikan dari berbagai sumber Portugis (misalnya J. de Barros, F.L. Castaheda, G. Correa), yaitu pada akhir tahun 1526 atau awal 1527. Sunda Calapa direbut dari kekuasaan kerajaan Hindu Sunda oleh pasukan Islam dari Cirebon. Awak kapal Portugis yang dipimpin D. de Coelho dan terdampar di Pantai Sunda Calapa dibunuh dan dipukul mundur oleh penguasa baru . Maka, 470 tahun yang lalu pasti terjadi perubahan besar di daerah yang sekarang disebut "Kota". Sunda Calapa (sampai 1526/27) maupun Jayakarta (1527 - 1619) terletak di sebelah selatan suatu garis yang dibentuk oleh rel kereta api dan jalan tol baru sedikit di sebelah utara Hotel Omni Batavia sekarang. Maka pasukan Cirebon yang dipimpin oleh Sunan Gunung Jati sebagai sekutu (atau bawahan?) Kesultanan Demak mendarat di pantai yang terbentang kurang lebih pada garis tersebut. Mungkin juga ia menyerang Sunda Calapa melewati daratan dari arah Marunda. Hal ini agak sulit, karena pada zaman itu daerah antara Marunda dan Kota masih penuh hutan lebat serta rawa-rawa yang banyak buayanya. Mitos, legenda, atau hanya cerita? Masalah siapa yang memimpin tentara koalisi Cirebon-Demak-Banten melawan raja Pajajaran belum terpecahkan dengan tuntas. Rupanya hal ini tidak mungkin terungkap, karena dokumen sejarah dari masa itu tidak ada, baik yang berbentuk tulisan maupun benda sejarah. Nilai sejarah cerita Purwaka Tjaruban Nagari, yang pengarangnya menyebut diri Pangeran Aria Tjarbon masih diperdebatkan oleh para sejarawan. Naskah dari sekitar tahun 1720 ini telah beredar sejak awal abad XIX di luar lingkungan Keraton Cirebon. Belum ada edisi kritis dari naskah penting ini, apalagi mengenai kitab sumbernya, yang disebutkan pada halaman terakhir yakni naskah Negarakertabumi. Purwaka Tjaruban Nagari bukan dokumen dari zaman Jakarta didirikan, maka pengetahuan tentang sumbernya penting. Selain itu naskah ini penuh cerita ajaib dan bagian-bagian yang memperlihatkan kepentingan pihak Cirebon pada waktu itu. Atas dasar yang secara halus dapat disebut ketidakpastian itu dibangun suatu sejarah tentang tokoh "pendiri" Jakarta, yaitu Fatahillah. Keberadaan dan peran penting seseorang yang muncul dalam aneka sumber sejarah sebagai Tagaril, Fadilah Khan, Falatehan atau Fatahillah, tak dapat disangsikan. Namun identitas dan kegiatan tokoh dari Pasai (Sumatra Utara) itu belum jelas betul. Karangan dan seminar sejarawan Indonesia dan luar negeri masih tetap bergumul tentang siapakah Fatahillah, orang Gujarat keturunan Arab itu. Mengingat keadaan sumber-sumber sejarah yang sulit ditemukan, bahkan harus dikatakan hampir nihil, maka pada awal berdirinya Kota yang dinamai Jayakarta itu akan tetap diliputi kabut, sehingga mitos dengan leluasa dapat berkembang, dipelihara, bahkan diresmikan. Nasib ini memang bukan hanya khas Jakarta. Memang sejarah yang kritis kadang kala menyajikan kejadian historis sebagai peristiwa yang bercorak agak biasa, sedangkan mitos, legenda, dan cerita dengan leluasa dapat membakar imajinasi dan semangat. Tetapi ini bukan maksud sejarah yang ingin mengenal kenyataan dan menafsirkannya. Apakah menginjak abad XXI ini orang akan puas dengan mitos ataukah mereka ingin mengetahui kebenaran? Kapankah akan terbit sejarah Jakarta yang kritis? Apakah sudah waktunya? Sudah mungkinkah dengan mengingat nasib aneka buku kritis yang muncul akhir-akhir ini? Jakarta yang merayakan hari ulang tahun ke-470 sepantasnya memiliki kajian sejarahnya, yang realistis serta ilmiah. Walaupun masa awal dan sejarah berikutnya akan tampak agak biasa, sejarah seperti ini diperlukan untuk membangun suatu rasa memiliki warga kota pada pergantian abad ini yang tidak lama lagi akan berlangsung. Mitos dan legenda tetap berfungsi, namun tidak memadai sebagai landasan pembangunan masa depan suatu masyarakat yang peduli pada nasib kotanya dan peninggalan-peninggalan sejarahnya.

KERAJAAN GOWA

Written By Unknown on Friday, December 21, 2012 | 5:14 AM





A.Asal-Usul Dan Perkembangan Kerajaan Gowa


1.Masa Sebelum Tumanurung

Sebelum zaman Tumanurung, ada empat raja yang pernah mengendalikan Pemerintahan Gowa yakni : Batara Guru, saudara Batara Guru yang dibunuh oleh Tatali (tak diketahui nama aslinya), Ratu Sapu atau Marancai dan Karaeng Katangka (Nama aslinya tak diketahui).
Keempat raja tersebut tak diketahui asal-usulnya serta masa pemerintahannya. Tapi mungkin pada masa itu, Gowa purba terdiri dari 9 kasuwiang ( kasuwiyang salapang) mungkin pula lebih yang dikepalai seorang penguasa sebagai raja kecil. Setelah pemerintahan Karaeng katangka, maka sembilan kerajaan kecil bergabung dalam bentuk pemerintahan federasi yang diketuai oleh Paccalaya.

2.Masa Tumanurung

Berdasarkan hasil penelitian sejarah, baik melalui lontarak maupun cerita yang berkembang di masyarakat, dapat diketahui bahwa munculnya nama Gowa dimulai pada tahun 1320, yakni pada masa pemerintahan Raja Gowa pertama bernama Tumanurunga.
Konon, sebelum Tumanurunga hadir di Butta Gowa, ada sembilan negeri kecil yang kini lebih dikenal dengan istilah Kasuwiang Salapanga yakni : Kasuwiang Tombolo, Lakiung, Samata, Parang-parang, Data, Agang Je’ne, Bisei, Kalling dan Sero. Kesembilan negeri tersebut mengikatkan diri dalam bentuk persekutuan atau pemerintahan federasi dibawa pengawasan Paccallaya (Ketua Dewan Pemisah).
Walaupun mereka bersatu, tetapi ke sembilan negeri tersebut sering dilanda perang saudara antara Gowa di bagian utara dan Gowa di bagian selatan. Paccallaya sebagai ketua federasi tak sanggup mengatasi peperangan tersebut. Hal tersebut karena Paccallaya hanya berfungsi sebagai lambang yang tidak memiliki pengaruh kuat terhadap anggota persekutuan yang masing-masing punya hak otonom.
Untuk mengatasi perang saudara tersebut, diperlukan seorang pemimpin yang kharismatik dan dapat diterima oleh kesembilan kelompok tersebut. Terdengarlah berita orang Paccallaya, bahwa ada seorang putri yang turun di atas bukit Tamalate tepatnya di Taka’bassia. Saat penantian, orang-orang yang berada di Bonto Biraeng melihat seberkas cahaya dari utara bergerak perlahan-lahan turun menuju Taka’bassia.
Kejadian itu cepat diketahui oleh Gallarang Mangasa dan bolo yang memang diserahi tugas mencari tokoh yang bisa menjadi pemersatu kaum yang berseteru itu. Paccalaya bersama ke sembilan kasuwiang bergegas ke Taka’bassia. Di sana mereka duduk mengelilingi cahaya sambil bertafakur. Cahaya itu kemudian menjelma menjadi seorang putri yang cantik jelita disertai pakaian kebesarannya antara lain berupa mahkota.
Baik Paccalaya maupun Kasuwiang tak mengetahui nama putri tersebut, sehingga mereka sepakat memberi nama Tumanurung Bainea atau Tumanurung, artinya orang (wanita) yang tidak diketahui asal usulnya.
Karena putri ratu tersebut memiliki keajaiban, Paccalaya dan Kasuwiang Salapang sepakat untuk mengangkat Tumanurung sebagai rajanya. Paccalaya kemudian mendekati Tumanurunga seraya bersembah “Sombangku!” (Tuanku), kami datang semua ke hadapan sombangku, kiranya sombangku sudi menetap di negeri kami dan menjadi raja di negeri kami.
Permohonan Paccalaya tersebut dikabulkan, dan berseru “Sombai Karaengnu tu Gowa (Sombalah rajamu hai orang Gowa). Baik Kasuwiang maupun warga yang ada di sekitar itu berseru “Sombangku”. Setelah Tumanurunga resmi menjadi Raja Gowa pertama pada tahun 1320 negeri Gowa kembali menjadi aman.
Masa pemerintahan Tumanurunga berlangsung sejak tahun 1320-1345. Diriwayatkan, Tumanurunga kemudian kawin dengan Karaeng Bayo, yaitu seorang pendatang yang tidak diketahui asal usulnya. Hanya dikatakan berasal dari arah selatan bersama temannya Lakipadada. Dari hasil perkawinan tersebut lahirlah Tumassalangga Baraya yang nantinya menggantikan ibunya menjadi raja Gowa kedua (1345-1370).
Menjelang abad XVI, pada masa pemerintahan Raja Gowa VI, Tunatangka Lopi, membagi wilayahnya menjadi dua bagian terhadap dua orang putranya, yaitu Batara Gowa dan Karaeng Loe Ri Sero. Batara Gowa melanjutkan kekuasaan ayahnya yang meninggal dunia. Wilayahnya meliputi (1) Paccelekang, (2) Patalassang, (3) Bontomanai Ilau, (4) Bontomanai Iraya, (5) Tombolo, dan (6) Mangasa.
Adiknya, Karaeng Loe ri Sero, mendirikan kerajaan baru yang bernama kerajaan Tallo dengan wilayah sebagai berikut: (1) Saumata,(2) Pannampu, (3) Moncong Loe, dan (4) Parang Loe.
Beberapa kurun waktu, kedua kerajaan itu terlibat pertikaian dan baru berakhir pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Karaeng Tumapakrisik Kallonna. Setelah melalui perang, beliau berhasil menaklukkan pemerintahan raja Tallo III I Mangayaoang Berang Karaeng Tunipasuru. Sejak itu, terbentuklah koalisi antara Kerajaan Gowa dan Tallo, dengan ditetapkannya bahwa Raja Tallo menjadi Karaeng Tumabbicara butta atau Mangkubumi (Perdana menteri) Kerajaan Gowa. Begitu eratnya hubungan kedua kerajaan ini sebagai kerajaan kembar, sehingga lahir pameo di kalangan rakyat Gowa dan Tallo dalam peribahasa “Dua Raja tapi hanya satu rakyat (Ruwa Karaeng Se’re Ata). Kesepakatan ini diperkuat oleh sebuah perjanjian yang dibuat dua kerajaan ini ,”iami anjo nasitalli’mo karaenga ri Gowa siagang karaenga ri Tallo, gallaranga iangaseng ribaruga nikelua. Ia iannamo tau ampasiewai Goa-Tallo, iamo macalla rewata”.

3.Masa Perkembangan Kerajaan Gowa

Pada permulaan abad ke-XVI kerajaan Gowa mengalami kemajuan di bidang Ekonomi dan politik pada masa pemerintahan Raja Gowa IX Daeng Matanre Karaeng Manguntungi bergelar “Tumapakrisik Kallonna”, dan dipindahkanlah Ibukota dari istana kerajaan dari Tamalate ke Somba Opu.
Disana beliau membangun sebuah dermaga yang menjadikan Gowa sebagai Kerajaan Maritim yang terkenal di wilayah nusantara bahkan sampai ke luar negeri. Bandar niaga Somba Opu dijadikan bandar transito sehingga ramai dikunjungi pedagang dari luar negeri.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna itu pula, Gowa telah berhasil memperluas daerah kekuasaannya dengan menaklukkan berapa daerah di sekitarnya, seperti Garassi, Katingan, Mandalle, Parigi, Siang (Pangkajene), Sidenreng, Lempangan, Bulukumba, Selayar, Panaikang, Campaga, Marusu, Polongbangkeng (Takalar), dan lain-lain. selanjutnya Sanrobone, Jipang, Galesong, Agang Nionjok, Tanete (Barru), Kahu, dan Pakombong dijadikannya sebagai Palilik atau kerajaan taklukan Gowa tetapi masih diberi kesempatan memerintah. Mereka diwajibkan membayar sabbukati (bea perang) dan mengakui supremasi Kerajaan Gowa.
Pada masa Karaeng Tumapakrisik Kallonna ini pula, Gowa mulai dikenal sebagai bandar niaga yang ramai dikunjungi dan disinggahi oleh kapal-kapal untuk melakukan bongkar muat rempah-rempah. Setelah jatuhnya Malaka ke tangan Portugis tahun 1511, banyak pedagang dari negara asing yang berdatangan ke Makassar, termasuk orang Melayu pada tahun 1512, juga orang Portugis yang pertama datang ke Makassar (Gowa –Tallo) menjalin hubungan persahabatan dan perdagangan pada tahun 1538. Orang Portugis inilah yang banyak mendapati kapal-kapal Makassar berkeliaran di sekeliling perairan Nusantara, bahkan sampai ke India, Siam (Muangthai) dan Filipina Selatan.
Untuk memperkuat pertahanan dan kedudukan istana di Somba Opu, Karaeng Tumapakrisik Kallonna memerintahkan untuk membangun sebuah benteng dari gundukan tanah yang mengelilingi istana pada tahun 1525. Benteng tersebut sekarang lebih dikenal dengan nama Benteng Somba Opu. Putra Karaeng Tumapakrisik Kallonna sebagai Raja Gowa X Karaeng Tunipallangga Ulaweng selanjutnya merenovasi benteng tersebut dengan tembok bata serta membangun benteng pertahanan lainnya, antara lain benteng Tallo, Ujung Tanah, Ujung Pandang, Mariso, Panakukang, Garassi, Galesong, Barombong, Anak Gowa dan Kalegowa.
Setelah karaeng Tumapakrisik Kallonna wafat, beliau digantikan oleh puteranya I Manriogau Daeng Bonto Karaeng Lakiung Tunipallangga Ulaweng (1546-1565) sebagai Raja Gowa X beserta mengkubuminya Nappakata`tana Daeng Padulung (Raja Tallo), melanjutkan cita-cita ayahandanya. Beliau memperkuat benteng-benteng pertahanan kerajaan dengan menjadikan Benteng somba Opu sebagai benmteng utama. Politik ekspansinya berjalan dengan baik. Kerajaan yang tidak mau tunduk pada pengaruh Gowa dianggap sebagai saingan yang harus ditaklukkan. Oleh karena itu Ia menyerang Bone yang waktu itu di bawah kekuasaan Raja bone VII, La Tenrirawe Bongkange Matinro Ri Gucina.
Setelah Tonipallangga meninggal dunia, Ia digantikan oleh Tonibatta (1565) sebagai Raja Gowa XI. Nama lengkapnya adalah I Tajibarani Daeng Marompa, Karaeng Data, Tonibatta. Baginda adalah yang paling pendek masa jabatannya, yakni hanya 40 hari. Baru saja menduduki tampuk kekuasaan, ia langsung mengadakan ekspansi ke kerajaan Bone. Tonibatta tewas dalam keadaan tertetak sehingga digelar Tonibatta.
Jenazah Baginda dikembalikan ke Gowa diiringi pembesar-pembesar terkemuka kerajaan Bone. Beberapa saat setelah upacara berkabung selesai, dilakukanlah perundingan perdamaian antara kedua kerajaan. Perjanjian itu biasa disebut Ulukanaya ri Caleppa ( kesepakatan di caleppa). Setelah perundingan selesai, Raja Bone beserta penasehatnya Kajaolalido langsung ke Gowa mengikuti pelantikan Raja Gowa XII, Manggorai Daeng Mammeta Karaeng Bontolangkasa Tonijallo (1565-1590).
Keadaan damai dimanfaatkan oleh kerajaan bone untuk menyusun aliansi Tellunpoccoe atau “tiga puncak kerajaan Bugis” untuk menghadapi agresi Gowa. Tonijallo memandang aliansi ini sebagai ancaman langsung terhadap supremasi Gowa. Oleh karena itu, pada tahun 1583 ia melancarkan serangan terhadap Wajo. Tujuh tahun kemudian 1590, serangan dilanjutkan kembali tetapi Gowa tetap tidak mampu mengalahkan Tellumpoccoe. Tonijallo sendiri tewas diamuk oleh pengikutnya.
Sepeninggal Tonijallo, Ia digantikan oleh I Tepu Karaeng Daeng Parambung Karaeng ri Bontolangkasa Tonipasulu sebagai Raja Gowa XIII (1590-1593). Tidak banyak aktifitas yang dilakukannya sebab ia hanya memerintah selama tiga tahun, kemudian dipecat dari jabatannya. Pemecatan dilakukan karena banyak perbuatannya yang buruk, seperti pembunuhan dan pemecatan pejabat kerajaan secara semena-mena.
Pengganti tonipasulu adalah saudaranya I Manggerangi Daeng Manrabia Sultan Alauddin Tu Menanga ri Gaukanna, Raja Gowa ke-14, putra Tunijallo. Beliau dinobatkan ketika berumur 7 tahun . Oleh karena itu, pemerintahan kerajaan dijalankan oleh Mangkubumi/Raja Tallo-I yang bernama I Mallingkaang Daeng Manyonri` Karaeng Katangka, Karaeng Matoaya, Tumenanga Ri Agamana, Sultan Awwalul Islam.

4.Islamisasi Kerajaan Gowa

Penerimaan Islam pada beberapa tempat di Nusantara memperlihatkan dua pola yang berbeda. Pertama, Islam diterima oleh masyarakat bawah, kemudiaan berkembang dan diterima oleh masyarakat lapisan atas disebut bottom up. Kedua, Islam diterima langsung oleh elite penguasa kerajaan kemudian disosialisasikan dan berkembang pada lapisan masyarakat bawah disebut top down. Penerimaan Islam di Gowa menurut penulis sejarah Islam, memperlihatkan pola yang kedua.
Kerajaan yang mula-mula memeluk Islam dengan resmi di Sulawesi Selatan adalah kerajaan kembar Gowa-Tallo. Tanggal peresmian Islam itu menurut lontara Gowa dan Tallo adalah malam Jum’at, 22 September 1605, atau 9 Jumadil Awal 1014 H. Dinyatakan bahwa Mangkubumi kerajaan Gowa / Raja Tallo I Mallingkaeng Daeng Manyonri mula-mula menerima dan mengucapkan kalimat Syahadat (Ia di beri gelar Sultan Abdullah Awwalul Islam) dan sesudah itu barulah raja Gowa ke-14 Mangenrangi Daeng Manrabia (Sultan Alauddin). Dua tahun kemudian seluruh rakyat Gowa-Tallo memeluk agama Islam berdasar atas prinsip cocius region eius religio, dengan diadakannya shalat Jumat pertama di masjid Tallo tanggal 9 November 1607 / 19 Rajab 1016 H.
Adapun yang mengislamkan kedua raja tersebut ialah Datu ri Bandang (Abdul Makmur Chatib Tunggal) seorang ulama datang dari Minangkabau (Sumatera) ke Sulawesi Selatan bersama dua orang temannya yakni Datu Patimang (Chatib Sulaeman) yang mengislamkan pula Raja Luwu La Pataware Daeng Parabung dan Datu ri Tiro (Chatib Bungsu) yang menyebar Agama Islam di Tiro dan sekitarnya.
Sekitar enam tahun kemudian, kerajaan lainnya di Sulawesi Selatan pun menerima Islam. Penyebarannya di dukung oleh Kerajaan Gowa sebagai pusat kekuatan pengislaman. Kerajaan bugis seperti Bone, Soppeng, Wajo dan Sidenreng, berhubung karena menolak, akhirnya Raja Gowa melakukan perang, karena juga dianggap menentang kekuasaan Raja Gowa. Setelah takluk, penyebaran Islam dapat dilakukan dengan mudah di Kerajaan Bugis.

B. Zaman Keemasan

Setelah Kerajaan Gowa menerima Islam, semakin menapak puncak kejayaannya. Pada masa pemerintahan Raja Gowa XV I Manuntungi Daeng Mattola Karaeng Ujung Karaeng Lakiung Sultan Malikulsaid (1639-1653), kekuasaan dan pengaruhnya kian meluas dan diakui sebagai pemegang hegemoni dan supremasi di Sulawesi Selatan, bahkan kawasan Timur Indonesia.
Kemashuran Sultan Malikulsaid sampai ke Eropa dan Asia, terutama karena pada masa pemerintahannya, dia ditunjang oleh jasa-jasa Karaeng Pattingalloang sebagai Mangkubuminya yang terkenal itu, baik dari segi sosok kecendiakawanannya maupun keahliannya dalam berdiplomasi. Tidak heran, Gowa ketika itu telah mampu menjalin hubungan internasional yang akrab dengan raja-raja dan pembesar dari negara luar, seperti Raja Inggris, Raja Kastilia di Spanyol, Raja Portugis, Raja Muda Portugis di Gowa (India), Gubernur Spayol dan Marchente di Mesoliputan (India), Mufti Besar Arabia dan terlebih lagi dengan kerajaan-kerajaan di sekitar Nusantara.
Kerjasama dengan bangsa-bangsa asing, terutama Eropa sejak Somba Opu menjadi Bandar Niaga Internasional. Bangsa Eropa gemar dengan rempah-rempah telah menjalin hubungan dagang dengan Gowa, seperti Inggris, Denmark, Portugis, Spanyol, Arab, dan Melayu. Mereka telah mendirikan kantor perwakilan dagang di Somba Opu. Dari tahun ke tahun hubungan Kerajaan Gowa dengan bangsa Eropa tidak mengalami ronrongan. Barulah terganggu setelah kehadiran orang-orang Belanda yang ingin memonopoli perdagangan dan menjajah.
Tanggal 5 November 1653 Sultan Malikulsaid wafat setelah mengendalikan pemerintahan Gowa selama 16 tahun. Beliau digantikan oleh puteranya I Mallombasi Daeng Mattawang Sultan Hasanuddin yang menjadi raja Gowa XVI (1653-1669). Dimasa Hasanuddin inilah ketegangan Gowa dengan Belanda kian meruncing. Hal tersebut karena sikap beliau sangat tegas dan tak mau tunduk pada Belanda. Tahun 1654-1655 terjadi pertempuran hebat antara Gowa dan Belanda di kepulauan Maluku. April 1655 armada Gowa yang langsung dipimpin Hasanuddin menyerang Buton, dan berhasil mendudukinya serta menewaskan semua tentara Belanda di negeri itu.
Setelah Belanda melihat kenyataan peperangan di Kawasan Timur Nusantara banyak menimbulkan kerugian menghadapi Gowa. Belanda dengan berbagai siasat menawarkan perdamaian. Tahun 1655 Belanda mengutus Willem Vanderbeck bersama Choja Sulaeman menghadap Sultan membawa pesan damai dari Gubernur jenderal Joan Maectsuyker tetapi tidak berhasil. Tanggal 17 Agustus 1655 tercapai perjanjian perdamaian 26 pasal sebagai hasil perundingan antara utusan Gowa yang diwakili Karaeng Popo dengan Gubernur Jenderal Belanda yang diwakili Dewan Hindia, Van Oudshoon. Pertemuan tersebut dipimpin oleh Panglima perang Belanda Mayor Van Dam di Batavia.
Perjanjian itu kemudian oleh Sultan dianggap sangat merugikan Gowa, terutama atas pasal larangan orang-orang Makassar berdagang di Banda dan Ambon, maka Gowa akhirnya menolak perjanjian itu. Tanggal 20 November 1655 utusan Gubernur Jenderal Joan Maetsyuiker untuk sekian kalinya mencoba lagi menawarkan perdamaian dengan mengutus van Wesenhager, tetapi Gowa menolaknya karena tuntutannya merugikan Gowa. Demikian berbagai siasat perdamaian yang diajukan Belanda selalu gagal sehingga permusuhan tidak terelakkan, sehingga terjadi pertempuran poun terus bergolak antara Gowa dengan Belanda, mulai dari perairan Maluku, Banda sampai Makassar.
Karena Belanda putus asa menghadapi kegigihan rakyat Gowa dibawa pimpinan Sultan Hasanuddin, maka pada bulan Oktober 1666 Belanda menggerakkan armada persenjataannya yang paling kuat dibawa pimpinan Cornelis Speelman ke perairan Indonesia bagian timur, guna meruntuhkan kerajaan Gowa dan pengaruh hegemoninya. Dengan dibantu pasukan Bone dan pengikut Aruppalakka, dan pasukan Ambon dibawa pimpinan Kapten Yonker dalam perang melawan Gowa. Posisi Gowa saat itu, tidak hanya berperang melawan bangsa asing tetapi juga bangsanya sendiri.
Tahun 1667 perang besarpun bergolak antara Pasukan Gowa dengan Belanda. Karena kekuatan tidak seimbang, menyebabkan benteng milik Gowa satu persatu direbut Belanda dan sekutunya, seperti benteng galesong, Barombong melalui pertempuran sengit yang banyak menelan korban kedua belah pihak.
Melihat Gowa dalam posisi yang kurang menguntungkan, Speelman mengajukan tawaran perundingan. Tawaran tersebut diterima Sultan dengan pertimbangan, bukan karena takut berperang tetapi demi menghindari bertambahnya pertumpahan darah yang lebih banyak di kalangan orang-orang Makassar maupun sesama bangsa sendiri. Atas pertimbangan itu, Sultan Hasanuddin terpaksa menerima perdamaian dengan Belanda dengan ditandatanganinya Perjanjian Bongaya pada tanggal 18 November 1667.
Dengan perjanjian Bongaya, Rakyat Gowa sangat dirugikan maka perangpun kembali berkecamuk. Pertempuran hebat itu membuat Belanda cemar, sehingga menambah bala bantuan dari batavia. Dalam pertempuran dahsyat Juni 1669 yang cukup banyak menelan korban di kedua belah pihak, akhirnya Belanda berhasil merebut benteng pertahanan yang paling kuat di Somba Opu. Benteng Somba Opu diduduki Belanda sejak 12 Juni 1669 dan kemudian dihancurkan, setelah pasukan Gowa mempertahankannya dengan gagah berani.
Perkembangan selanjutnya setelah Sultan Hasanuddin, Raja-raja Gowa masih terus melakukan perlawanan dengan Belanda. Hal itu dibuktikan dengan gigihnya perlawanan Raja Gowa XVIII Sultan Muhammad Ali (Putra Sultan Hasanuddin) yang gugur dalam tahanan Belanda di Batavia (Jakarta) pada tahun 1680. Raja Gowa XXVI Batara Gowa II setelah tertangkap dan diasingkan ke Sailon. Tidak terhitung putra-putri terbaik Gowa lainnya telah berjuan dan gugur di medan perang membela tanah airnya.

C. Masa Kemunduran dan Keruntuhan

Peperangan demi peperangan melawan Belanda dan bangsanya sendiri (Bone) yang dialami Gowa, membuat banyak kerugian. Kerugian itu sedikit banyaknya membawa pengaruh terhadap perekonomian Gowa. Sejak kekalahan Gowa dengan Belanda terutama setelah hancurnya benteng Somba Opu, maka sejak itu pula keagungan Gowa yang sudah berlangsung berabad-abad lamanya akhirnya mengalami kemunduran. Akibat perjanjian Bongaya, pada tahun 1667 sultan Hasanuddin Tunduk. Dalam perjanjian itu, nyatalah kekalahan Makassar. Pardagangannya telah habis dan negeri-negeri yang ditaklukkannya harus dilepaskan. Apalagi sejak Aru Palakka menaklukkan hampir seluruh daratan Sulawesi Selatan dan berkedudukan di Makassar, maka banyak orang Bugis yang pindah di Makassar. Sejak itu pula penjajahan Belanda mulai tertanam secara penuh di Indonesia.
Makassar, sebagai ibukota kerajaan Gowa mengalami pengalihan-pengalihan baik dari segi penguasaan maupun perkembangan-perkembangannya. Pengaruh kekuasaan gowa makin lama makin tidak terasa di kalangan penduduk Makassar yang kebanyakan pengikut Aru Palaka dan Belanda . benteng Somba Opu yang selama ini menjadi pusat politik menjadi kosong dan sepi. Pemerintahan kerajaan Gowa yang telah mengundurkan diri dari Makassar ( Yang berada dalam masa peralihan) ke Kale Gowa dan Maccini Sombala tidak dapat dalam waktu yang cepat memulihkan diri untuk menciptakan stabilitas dalam negeri. Namun demikian Sultan Hasanuddin telah menunjukkan perjuangannya yang begitu gigih untuk membela tanah air dari cengkraman penjajah. Sebagai tanda jasa atas perjuangan Sultan Hasanuddin, Pemerintah Republik Indonesia atas SK Presiden No. 087/TK/1973 tanggal 10 November 1973 menganugerahi beliau sebagai Pahlawan Nasional.
Demikian Gowa telah mengalami pasang surut dalam perkembangan sejak Raja Gowa pertama, Tumanurung (abad 13) hingga mencapai puncak keemasannya pada abad XVIII kemudian sampai mengalami transisi setelah bertahun-tahun berjuang menghadapi penjajahan. Dalam pada itu, sistem pemerintahanpun mengalami transisi di masa Raja Gowa XXXVI Andi Idjo Karaeng Lalolang, setelah menjadi bagian Republik Indonesia yang merdeka dan bersatu, berubah bentuk dari kerajaan menjadi daerah tingkat II Otonom. Sehingga dengan perubahan tersebut, Andi Idjo pun tercatat dalam sejarah sebagai Raja Gowa terakhir dan sekaligus Bupati Gowa pertama.

HARI IBU

Written By Unknown on Tuesday, December 18, 2012 | 5:34 AM

Sejarah hari ibu telah dikenal pasti sebagai perayaan musim bunga orang-orang Greece, sebagai penghormatan terhadap Rhea, ibu kepada tuhan mereka. Pada tahun 1600 orang-orang England merayakan hari yang mereka namakan sebagai "Mothering Sunday". Ia dirayakan pada hari Ahad keempat setiap Lent. Lent adalah tempoh masa selama 40 hari samada dalam bulan Februari atau Mac. Dalam tempoh ini, sebahagian orang-orang Kristian akan berhenti melakukan atau memakan makanan tertentu atas alasan agama. Amalan tersebut adalah sebagai penghormatan mereka terhadap Mother Mary. Mother Mary adalah Maryam, ibu kepada Nabi Isa Alaihissalam atau Jesus yang mereka anggap sebagai tuhan.
Dalam tempoh tersebut, kebanyakan rakyat England yang faqir dan miskin akan bekerja sebagai pembantu rumah. Mereka keluar jauh meninggalkan keluarga kerana percaya bahawa Jesus akan memberikan kekayaan dan kesenangan dalam tempoh tersebut. Menjelang hari Ahad keempat, mereka digalakkan untuk bercuti oleh majikan dan pulang ke kampung untuk bertemu dengan ibu. Setiap ibu akan dihadiahkan dengan Mothering Cake atau kek hari ibu sempena perayaan tersebut.
Amalan dan tradisi ini menular ke seluruh dunia dan ia kini disambut sebagai penghormatan kepada Mother Church. Mother Church dianggap sebagai kuasa spiritual yang agung yang memberi manusia kehidupan dan memullihara mereka dari sebarang kecederaan. Sejak dari itu, perayaan Mothering Sunday telah diadun dengan upacara kegerejaan. Penghormatan mereka terhadap ibu sama taraf dengan penghormatan mereka terhadap gereja.
Di Amerika Syarikat, Hari Ibu disambut seawal 1872 hasil ilham Julia Ward Howe. Beliau adalah seorang aktivis sosial dan telah menulis puisi " The Battle Hymn of The Republic" (TBHoTR). TBHoTR telah dijadikan lagu patriotik yang popular di kalangan warga Amerika. Ungkapan "Hallelujah" dalam bait-bait lagu tersebut menyerlahkan lagi sentuhan Yahudi dan Zionis dalam mencaturkan politik dunia.
Pada tahun 1907 Anna Jarvis dari Philadelphia telah memulakan kempen untuk melancarkan Hari Ibu. Beliau telah berjaya mempengaruhi Mother's Church di Grafton, West Virginia agar meraya dan meraikan Hari Ibu pada hari ulang tahun kedua kematian ibunya, iaitu pada hari Ahad kedua dalam bulan Mei. Semenjak dari itu, Hari Ibu dirayakan saban tahun di Philadelphia.
Anna Jarvis dan pendokong-pendokongnya telah menulis surat kepada menteri, golongan peniaga dan ahli-ahli politik agar Hari Ibu disambut secara meluas di seluruh wilayah. Matlamat mereka telah berjaya sepenuhnya pada tahun 1911 apabila hari tersebut disambut oleh hampir keseluruhan wilayah Amerika. Pada tahun 1914, Presiden Woodrow Wilson, secara rasminya telah mengisytiharkan Hari Ibu sebagai hari cuti umum dan mesti raikan pada setiap hari Ahad kedua dalam bulan Mei. Biar pun sebahagian besar negara-negara di dunia menyambutnya pada hari yang berlainan tetapi negara seperti Denmark, Finland, Itali, Turki, Australia, dan Belgium masih merayakannya pada setiap hari Ahad kedua dalam bulan Mei.
 
Untukmu Ibu

Dentang nafasmu menyeruak hari hingga senja
Tak ada lelah menggores diwajah mu
Tak ada sesal kala semua harus kau lalui
Langkah itu terus berjalan untuk ku...

Desah mimpimu berlari
mengejar bintang
Berharap aku menjadi mutiara terindahmu
Dalam semua peran yang kau mainkan di bumi
Ini peran terbaikmu

Dalam lelah kau rangkai kata bijak untuk ku
Mengurai senyum disetiap perjalanan ku
Mendera doa disetiap detik nafas ku
Ibu... kau berlian dihati ku

Relung hatimu begitu indah
Hingga kami tak sanggup menggapai dalamnya
Derai air matamu menguntai sebuah harap
Di setiap sholat malammu

Ibu...
Aku hanya ingin menjadi sebuah impian untukmu
Membopong semua mimpimu dalam pundak ku

Ibu...
Jangan benci Aku
jika Aku membuatmu menangis.
 
Sumber : http://www.mothersdaycentral.com/about-mothersday/history/

SEJARAH PALESTINA DAN RAKYATNYA

Written By Unknown on Friday, November 30, 2012 | 6:38 AM

Yahudi Israel menduduki wilayah al Quds Barat pada perang tahun 1948, luas wilayah ini sekitar 84,1% dari keseluruhan luas wilayah al Quds. Selanjutnya mereka melakukan yahudisasi terhadap wilayah ini – yang 85% pemiliknya adalah orang Arab Palestina – dan membangun kompleks-kompleks perkampungan Yahudi di atas tanah al Quds Barat dan tanah-tanah yang mereka gusur di sekitarnya. Seperti desa Lafna – yang dibangun di atasnya kantor parlemen Israel Knesset dan sejumlah kantor departemen Israel – kemudian desa Ain Karim, Deir Yasin, Maliha dan yang lainnya.
 
Pada tahun 1967 penjajah Zionis Israel menyempurnakan penjajahannya terhadap kota suci al Quds dengan menduduki wilayah al Quds Timur, yang juga merupakan bagian dari wilayah Tepi Barat sungai Yordan dan di dalamnya adalah bangunan suci umat Islam masjid al Aqsha yang diberkati. Sejak saat itu mulailah serangan yahudisasi yang menghancurkan wilayah al Quds Timur. Maka dimaklumatkan penyatuan dua wilayah al Quds (al Quds Barat dan al Quds Timur) di bawah administrasi “Israel” pada 27 Juni 1967. Kemudian dimaklumatkan secara resmi pada 20 Juli 1980 bahwa al Quds adalah ibukota abadi tunggal untuk entitas ‘Israel”.
 
Sentralisasi di al Quds adalah masalah utama dalam pemikiran Zionis Yahudi, sebagai realisasi tujuan-tujuan agama dan sejarah. Bahkan 50 tahun sebelum pendirian entitas negara “Israel”, pendiri organisasi Zionisme internasional Theodore Hertzel sudah mengatakan, “Jika kita berhasil mendapatkan kota suci al Quds sedang saya masih hidup dan mampu melakukan sesuatu, maka saya akan menghapus segala sesuatu yang tidak suci bagi Yahudi di dalamnya. Dan saya akan membakar semua peninggalan yang telah berlalu berabad-abad.”76 Sedang pendiri entitas negara Yahudi dan sekaligus perdana menteri pertama bagi entitas Yahudi di Palestina David Ben Gurion mengatakan, “Bahwasanya tidak ada artinya bagi Israel tanpa al Quds dan tidak ada artinya bagi al Quds tanpa Haikal.”
 
Secara bertahap entitas Zionis Yahudi melakukan perluasan kota al Quds, agar berhasil mencaplok lebih wilayah-wilayah Tepi Barat secara total ke dalam wilayahnya, dan agar dapat melakukan aktivitas yahudisasi al Quds secara sistematis dan ekspansif. Maka diperluaslah wilayah kota al Quds dari 6,5 kilometer persegi pada tahun 1967 menjadi 123 kilometer persegi pada tahun 1990. Adapun rencana yang mereka sebut dengan al Quds Raya yang hendak mereka realisasikan seluas 840 kilometer persegi atau sekitar 15% dari total wilayah Tepi Barat. Di zona area kota timur al Quds Zionis Yahudi membangun kendali berupa 11 perkampungan Yahudi yang dihuni 190 ribu Yahudi di seputar kota Baldah Qadimah di mana masjid al Aqsha berada, kendali yang lebih besar lagi juga dibangun di seputar al Quds berupa 17 kompleks permukiman Yahudi, sebagai upaya untuk memutus al Quds dari wilayah Arab Islam sekitarnya. Untuk selanjutnya memutus jalan apapun untuk kompromi damai yang memungkinkan mengembalikan al Quds atau wilayah timur al Quds kepada Palestina.
 
Menurut kalkulasi pada tahun 2000 wilayah al Quds, timur dan barat, dihuni sekitar 650 ribu jiwa (450 ribu orang Yahudi dan 200 ribu Arab Palestina yang hampir seluruhnya tinggal di al Quds Timur). Karena aktivitas penggusuran dan pemaksaan Zionis Yahudi menguasai 86% wilayah al Quds dan hanya 4% saja yang tersisa bagi orang Arab Palestina, sedang yang 10% sisanya orang-orang Palestina dilarang menggunakannya karena disediakan untuk proyek-proyek Yahudi. Data ini mengisyaratkan betapa bahayanya proyek yahudisasi terhadap kota al Quds. Padahal pada awal penjajahan Inggris di Palestina pada tahun 1918 orang-orang Palestina memiliki 90% wilayah al Quds.
 
Adapun Baitul Maqdis “Masjid al Aqsha” maka dia memiliki kisah penderitaan yang sangat menyakitkan. Provokasi mobilisasi Yahudi nampak jelas dan terang-terangan ke arah ini sejak tahun 20-an abad ke 20. Pada mulanya orang-orang Yahudi memfokuskan tuntutannya pada sisi barat tembok masjid al Aqsha “Tembok Buraq” yang mereka namakan dengan “tembok ratapan”. Tembok dan daerah sekitarnya pada hakikatnya adalah tanah wakaf Islam tetap yang memiliki nota dan dokumen, dan itu diakui bahkan oleh tim investigasi internasional. Beberapa hari setelah pendudukan al Quds Zionis Yahudi menghancurkan kampong al Mugharabah yang berhadapan dengan tembok barat masjid al Aqsha (Tembok Buraq atau yang mereka sebut dengan tembok ratapan). Kampung ini terdiri dari 135 rumah dan dua masjid, kampung ini habis rata dengan tanah untuk kemudian dijadikan area terbuka yang digunakan orang-orang untuk ibadah mereka, meskipun tanah ini adalah wakaf Islam.
 
Mulailah Yahudi melancarkan operasi penggalian di bawah masjid al Aqsha dan daerah sekitarnya, mereka memfokuskan operasi ini di daerah barat dan selatan masjid, sebagai upaya untuk mewujudkan bukti apapun bagi “haikal” yang mereka klaim. Namun justru yang mereka dapatkan sebagian besar adalah peninggalan-peninggalan Islam yang mendukung kedudukan dan identitas keislaman al Quds. Sejak tahun 1967 hingga tahun 2000 operasi penggalian ini telah melewati 10 periode (tahap), yang dilakukan dengan giat namun tenang dan diam-diam. Selama itu mereka memfokuskan penggalian pada sisi barat dan selatan masjid al Aqsha, untuk itu pula mereka melakukan penggusuran dan penghancuran banyak masjid bangunan-bangunan bersejarah Islam. Misalnya, pada 14 – 20 Juni 1969 mereka menghancurkan 31 bangunan bersejarah Islam dan mengusir warganya, serta penggalian terowongan di bawah masjid al Aqsha. Tapi yang mereka dapatkan adalah peninggalan Islam yang mendukung kedudukan dan identitas keislaman al Quds, hal ini semakin menambah kedengkian dan hasad mereka. Penggalian ini mencapai tahap yang sangat membahayakan ketika mereka mengosongkan tanah dan batu dari bawah masjid al Aqsha dan masjid Qubatus Shakhra’, mereka menggunakan bahan kimia untuk meleburkan batu-batu tersebut, yang menjadikan masjid al Aqsha siap runtuh kapan saja oleh topan yang kuat atau dengan gempa ringan (baik itu buatan atau alami).
 
Adapun serangan-serangan permusuhan terhadap masjid al Aqsha, maka selama tahun 1967 – 1990 telah terjadi 40 kali serangan. Berbagai kompromi damai dan perjanjian Oslo tidak juga dapat menghentikan penyerangan-penyerangan yang mereka lakukan. Bahkan selama tahun 1993 – 1998 tercatat ada 72 kali aksi serangan. Sebuah data yang menunjukkan meningkatnya aksi-aksi biadab mereka terhadap salah satu tempat suci kaum muslimin. Serangan yang paling menonjol adalah aksi pembakaran masjid al Aqsha pada 21 Agustus tahun 1869 dengan tertuduh seorang Nasrani fanatic bernama Denis Mikel Rohan yang berafiliasi ke Gereja Allah. Akibat aksi ini api membakar seluruh isi dan tembok masjid, juga membakar mimbar agung masjid yang dibuat oleh Nuruddin Zinki dan diletakkan oleh Shalahuddin di dalam masjid paska pembebasan al Aqsha dari tangan kaum salib pada tahun 1187. Setelah dilakukan pengadilan simbolik, Zionis Yahudi membebaskan Rohan dengan vonis dia tidak bertanggung jawab melakukan tindak pidana karena dia gila. Kala itu pihak rezim penjajah Israel sengaja terlambat memberikan bantuan untuk memadamkan kebakaran, bahkan menghalangi upaya ribuan kaum muslimin yang berbondong-bondong memadamkan api.
 
Sebulan setelah aksi pembakaran ini didirikan Organisasi Konferensi Negara-negara Islam (OKI), ketika para pemimpin dunia Islam menyerukan untuk melakukan diskusi membahas cara melindungi masjid al Aqsha dan al Quds. Hanya saja kelemahan negara-negara Islam, kerancuan loyalitas dan ideologinya serta tidak diadopsinya kerja yang sungguh-sungguh sebelumnya, telah menjadikan organisasi ini sebagai lembaga yang hampir tidak memiliki tujuan. Kerja-kerjanya tidak lebih dari melakukan pertemuan-pertemuan, mengeluarkan pernyataan-pernyataan dan penghampaan perasaan.
 
Pada 30 Januari 1976 sebuah pengadilan Israel memutuskan hak bagi Yahudi untuk melakukan ibadah di area masjid al Aqsha, kapanpun mereka mau di waktu siang. Pada awal Mei tahun 1980 terungkap adanya upaya penghancuran masjid al Aqsha ketika ditemukan di dekat masjid lebih dari 1000 kilogram bahan peledak jenis T.N.T. Pada April 1982 seorang serdadu Yahudi bernama Alan Godman melancarkan serangan menyerbu masjid al Aqsha menembak penjaga gerbang masjid. Kemudian dia lari menuju ke arah masjid Qubatus Shakhra’ sambil melancarkan serangan membabi buta hingga menciderai sejumlah jamaah shalat. Aksi ini diikuti oleh sejumlah serdadu Yahudi yang berkonsentrasi di atap-atap rumah terdekat sambil melancarkan tembakan ke arah masjid Qubatus Shakhra’. Maka kaum muslimin segera berbondong-bondong menuju masjid untuk melindunginya hingga mengakibatkan sedikitnya 100 muslim terluka dan perlawanan ini. Pada waktu yang sama, Amerika Serikat menggunakan hak vetonya untuk mengganjal resolusi Dewan Keamanan PBB yang mengecam peristiwa ini pada 20 April 1984. Pada 17 Oktober tahun 1989 kelompok Yahudi Umana’ Haikal (penjaga haikal) meletakkan batu fondasi bagi pembangunan haikal ketiga dengan gerbang masjid al Aqsha.
 
Meski kaum muslimin dan Palestina mengalami penderitaan akibat penjajahan dan kekerasan paksa namun mereka terus terjaga melindungi masjid al Aqsha. Mereka selalu bangun dan bergerak membela kehormatan masjid al Aqsha dengan tubuh dan batu-batu intifadhah, setelah mereka kehilangan pertolongan Arab dan dunia Islam. Segala serangan permusuhan Zionis Yahudi tidak pernah luput dari aksi perlawanan kaum muslimin meski hal itu berakibat pada pembantaian atas diri mereka sendiri. Seperti yang terjadi pada 8 Oktober tahun 1990 yang mengakibatkan 34 orang gugur syahid dan 115 lainnya luka-luka, ketika kelompok Yahudi melakukan peletakan batu fondasi haikal di dalam masjid al Aqsha. Seperti yang terjadi juga pada 25 – 27 September 1996 saat kaum muslimin bangkit melakukan intifadhah akibat pembukaan penggalian oleh Yahudi di bawah tembok barat masjid al Aqsha. Aksi ini mengakibatkan 62 orang gugur syahid dan 1600 lainnya luka-luka. Aksi ini kemudian memicu campur tangan polisi Palestina di pihak orang-orang Palestina hingga mengakibatkan 14 serdadu Israel tewas dan 50 lainnya terluka.
 
Puluhan resolusi internasional telah dikeluarkan dari PBB dan Dewan Keamanan PBB sendiri yang menolak penggabungan al Quds Timur ke dalam wilayah Israel, juga menolak terhadap langkah-langkah apapun baik materiil, administratif, ataupun undang-undang yang merubah realita al Quds, bila hal itu dilakukan maka dianggap tidak sah. Resolusi-resolusi ini menganggap entitas Zionis Yahudi sebagai kekuatan penjajah yang harus keluar dari al Quds (juga dari Tepi Barat dan Jalur Gaza secara keseluruhan). Resolusi yang pertama kali keluar pada 4 Juli tahun 1967 dari Majelis Umum PBB no. 2253 yang selanjutnya disusul dengan resolusi-resolusi lainnya silih berganti hingga entitas Zionis Yahudi mencaplok (menggabungkan) secara resmi al Quds Timur ke dalam wilayahnya. Maka Majelis Umum PBB membuat resolusi ES 712 pada 29 Juli tahun 1980 yang didukung mayoritas anggota sebanyak 112 suara melawan 7 suara sementara 24 suara abstain. Resolusi ini menyerukan kepada Zionis Israel menarik diri secara total tanpa syarat dari seluruh wilayah Arab yang mereka duduki termasuk di dalamnya adalah al Quds.
 
Pada 30 Juli tahun 1980, dengan 14 suara mayoritas dan satu negara abstain yaitu Amerika Serikat, Dewan Keamanan PBB mengeluarkan resolusi yang menyatakan tidak sahnya semua langkah yang diambil Zionis Israel merubah realita al Quds, sekaligus menegaskan diakhirinya pendudukan “Israel”. Secara berkesinambungan resolusi-resolusi internasional dikeluarkan hingga sekarang, meski semuanya mengakui hak-hak Palestina, namun semua itu miskin kesungguhan dan kekuatan yang lazim untuk memaksa entitas Zionis Yahudi menghormati resolusi-resolusi internasional tersebut.

WTC (WAJAH TERORIS CURANG)

Written By Unknown on Tuesday, November 27, 2012 | 5:19 AM

"Dua burung besi akan jatuh dari angkasa di atas metropolis. Angkasa akan terbakar panas dengan suhu empat puluh lima derajat. Kobaran api mendekati kota baru itu. Tak lama kemudian sebuah jilatan api raksasa yang berserakan, membumbung ke atas. Dalam waktu beberapa bulan setelah setelah itu, sungai-sungai akan dibanjiri darah."
Hai sobat, tahu engga ramalan di atas itu diungkakan oleh siapa? Engga. Ah, kamu mah kuper amat sih, baca dong TV,lihat Koran ( eh, salah ya ). Oke dech kita kasih tahu, tapi kamu harus janji dulu bahwa kamu akan membaca tulisan ini sampai khatam.
Jadi ramalan di atas itu diungkapkan oleh seorang peramal asal negeri Napoleon Yaitu Prancis. Bung Nos melanjutkan ramalannya, " perang dunia ketiga akan pecah saat kota yang besar itu terbakar."
Wah, hebat yach!!! Eit, kamu jangan dulu memponis seperti itu, soalnya kalo kamu percaya dan meyakini apa yang dikatakan seorang peramal, maka kamu akan menjadi penghuni neraka nanti dan sholat kamu ( yang suka sholat ) tidak akan diterima selama 40 hari 40 malam, mau engga? ( jelas engga mau lach). Lagi pula Nostradamus itu hanyala seorang manusia yang hanya bias mengira-mengira dan meramal doang, masalah terbukti atawa heunteu dia juga sebenarnya tidak nyaho, soalnya hanya Allah sajalah yang menetukan sesuatu akan terjadi atau tidak, dan kalaupun ramalan bung Nos sekarang terjadi itu hanyalah kebetulan saja. Oche son? Oke dech kaka.
Baik sobat, pada perjumpaan kita kali ini, kita tidak akan membahas soal peramal di atas. Tapi kita akan membahas sebuah peristiwa yang sangat mencengangkan dunia, yaitu tragedi robohnya menara kembar World Trade Center (WTC). Bagi kamu-kamu yang punya TV dan nonton TV ( kecuali Anak Kost. Eit tenang jangan marah dulu), kamu pasti akan bertanya-tanya. Pertama, kenapa sich menara kembar WTC yang kata orang merupakan salah satu gedung tertinggi di dunia rela dirobohkan? Kedua, siapa juga pelaku dari peristiwa yang membuat rame dunia ini? Oleh sebab itu kebet terus tulisan ini.
Oke, kita mulai saja dengan membahas point kedua dulu. Lho kenapa point kedua dulu,? Sori soalnya penulis salah naronya, eh bukanitu, soalnya kalo kita bahas point pertama dulu nanti kagak nyambung. Udah dech, jangan banyak nanya melulu.
Siapakah dibalik Peristiwa ini?
Sobat, kamu pernah baca Koran Republika edisi Jumat 21 september 2001, di situ dikatakan bahwa sekitar 4000 karyawan berkebangsaan Israel tidak masuk kerja atau kalo bahasa kitanya mah bolos ( hayoh siapa yang sering bolos) saat gedung menara kembar itu dihajar pesawat pada 11 september lalu.
Aksi kompak tersebut mengundang kecurigaan para pejabat AS. Apalagi tak satupun orang Israel yang kojor dalam peristiwa tersebut, meskipin dilaporkan ada 133 orang yahudi yang dinyatakan hilang.
Namun setelah serangan terjadi, media massa Israel langsung menuliskan suasana berkabung atas matinya 4000 pegawai Israel yang bekerja pada dua menara itu, namun kemudian diketahui tak satupun dari 4000 orang yahudi itu termasuk dalam daftar korban tragedi itu.
Eh, tunggu jangan diterusin dulu. Tahu dari mana ente berita ini? Oh, kirain mau nanya apa. Kalo mau tau mah akan kita kasih tau.
Fakta ini terungkap berdasarkan penyelidikan jaringan televisi Al Manar di Libanon dan harian Al- Wathon di Yordania. Fakta berdasarkan petunjuk dinas keamanan umum Israel, Shabak ( Pentagonnya Israel ).
Menurut Al-Wathon, fakta tersebut menimbulkan kecurigaan. Apalagi Koran Israel Yadiot Aharonot mengungkapkan bahwa Shabak mencegah perdana menteri Israe Ariel Sharon berkunjung ke New York. Sementara itu Koran Israel Haarezt melaporkan bahwa biro penyelidik AS (FBI) menangkap lima orang Israel yang sedang meliput peristiwa penubrukan pesawat terhadap WTC sambil jingkrak-jingkrakan ( aneh bin ajaib, yach. Pasti mereka senang banget).
Keganjilan juga tampak dari jumlah korban yang relatif sedikit. Padahal menurut Walikota New York Rudolph Guiliani, WTC dihuni sekitar 40 ribu orang dari berbagai bangsa. Kamu juga harus nyaho sobat, bahwa di saat sibuk, gedung ini dikunjungi 100 sampai 150 ribu orang ( wui loba oge nya ), namun jumlah korban yang ditemukan di rerutuhan tidak sebanyak itu.
Sekarang ane mau nanya sama ente, mungkin engga dalam waktu pendek itu seluruh penghuni gedung bisa keluar dari gedung yang berlantai 110 lantai (114 lantai kalo ditambah dengan yang di bawah)? Kalo kamu mengikuti kejadian ini dengan cermat, kamu pasti akan merasa aneh. Soalnya begini sobat, pesawat pertama menabrak menara utara pukul 08.45. pesawat kedua menubruk menara selatan pukul 09.03. menara selatan ambruk pukul 09.45. menara utara rontok pukul 10.43. selisih waktu menara utara ditabrak dan ambruk adalah 1 jam 40 menit, menara selatan 56 menit. Aneh engga? Wah, kalo engga aneh patut dipertanyakan dengan otak kamu sobat. Che ile, gitu amat, biasa aja dong.
Oke dech kita lanjutin analisis ini. Kecurigaan juga muncul dari cara penyelidikan. Pertama, Adnan Bukhori dan Ameeer Bukhori dituduh senagai pembajak sawah, eh sori, maksudnya pesawat, ternyata Ameer udah permisi dari dunia ini setahun yang lalu dan Adnan masih idup ampe sekarang.
Kedua, pembajak yang dituduh FBI mati dalam kasus WTC ini, ternyata masih hidup di negeri korma Arab Saudi. Ketiga, Barbara Olson ( penyiar CNN ), saksi mata sekaligus korban, tak pernah menyebutkan keberadaan wong arab dalam pesawat.
Jadi, kalo begitu siapa pelakunya? Kalo kita kaitkan dengan fakta-fakta di atas, kita dapat menemukan benang merah bahwa pelakunya adalah AS sendiri ( CIA. FBI, Pentagon ) atau Zionis Israel ( Shabak, Mossad ).soalnya fakta-fakta di atas sangat berhubungan erat sekali dengan mereka.
Lalu, bagaimana dengan Osamah Bin Laden yang dituduh oleh AS sebagai dalang dibalik peristiwa ini? Dubes Afghanistan Untuk Pakistan Abdul Salam Zaeef menyebutkan Osamah tak memiliki fasilitas komunikasi dan akses untuk melancarkan serangan canggih itu, dan sampai detik ini AS tidak bisa memberikan bukti dengan gambling keterlibatan Beliau. Sementara Israel memiliki pilot-pilot terlatih, system komunikasi hebring, dan yang lebih utama adalah Fulus ( soalnya, maa fil fulus mampus, maujud fulus mulus ).
Hubungan Israel-AS juga tak selalu mulus. Saat perang arab 1967, negeri Zionis itu menyerang kapal intelejen AS, USS Liberty.
Dubes irak untuk Indonesia Dr. Sa'doon.J. Al Zubaidy mengatakan Israel dan AS sendiri mengeruk keuntungan dari tragedy ini. Di antara negara-negara shohib dekat AS Israel paling sedikit kehilangan warganya. Israel berharap negeri Uncle Sam dapat langsung menggebuk gerakan-gerakan dan negeri-negeri Islam yang di cap membela Osamah, salah satunya Afghanistan. Itulah wajah curang mereka.
Nah, pertanyaan pertama udah terjawab, gimana puas engga?, ane yakin kamu tidak akan puas, soalnya fakta-fakta diatas belum seberapa dan masih buanyak lagi fakta-fakta yang tidak diberitakan semua. Sekarang kita beralih ke pembahasan kedua.
Mengapa WTC rela dirontokan?
"Konspirasi Israel-Vatikan di balik penyerangan WTC" demikian tulis sebuah Koran dalam negeri. Ach, apa mungkin? Lho kenapa tidak. Kamu tahu tidak George Zoros dia adalah seorang yahudi yang sangat berpengaruh percaturan ekonomi Dunia. Semua yang berhubungan dengan duit dialah gembongnya.
Memang benar sobat, pergolakan pada penyerangan menara kembar WTC di New York ternyata terkait erat dengan "pertarungan" dua Bandar besar yang sekarang ini berusaha menguasai ekonomi dunia. Yaitu kelompok Tel Aviv dan Vatikan. Sementaar di tengahnya, adalah umat Islam yang terjepit dan hanya dijadikan kambing ijo, eh salah, hitam maksudnya.
Sinyalemen itu muncul dari pengamatan politik internasional Dr. Shechan Shahab SH kepada pers di Jakarta ( termasuk di dalamnya adalah ISLAMUDA kali yech. Huh ngawur kamu. Boro-boro pergi ke Jakarta, pergi ke Afghanistan untuk jihad saja susah. Terus apa hubungannya? Au ah gelap.)
Oke mari kita lanjutkan. Menurut Bung Shecan, adanya indikasi perseteruan dari dua kutub itu yakni, empat hari sebelum terjadi penyerangan terhadap WTC dan Pentagon atau tragedy selasa item, para pengusaha Yahudi telah membeli WTC seharga US$ 1,2 milyar ( berapa rupiah tuh?) dan diasuransikan senilai UU$ 3,6 milyar. Jadi mereka sama sekali tidak akan merasakan kerugian yang membahayakan.
Pendapat ini juga di benarkan oleh cendikiawan muslim Dr. Ir. Muslimin Nasution, yang menyatakan bahwa hancurnya WTC itu sangat kecil nilainya bagi AS, karena sebenarnya sudah diasuransikan. Karena WTC merupakan pusat perdagangan dunia, maka perusahaan asuransinya yang diikutkan itu berasal dari berbagai negara di dunia
Oleh Karena itu, indikasi munculnya poros Yahudi-Vatikan sangat masuk akal. Karena dalam sejarahnya sepak terjang Yahudi tidak hanya selalu memusuhi Islam, tapi juga sering kali mengganggu pihak lain seperi Kristen. Tapi jika musuh yang dihadapi adalah Islam, maka mereka bias saling bahu-membahu, membentuk aliansi, apalagi Osamah itukan seorang Milyarder yang dikhawatirkan akan menyaingi mereka.
Oleh karena itu, dari pemaparan di atas sangat jauh sekali kalo Osama yang melakukan. Satu Koran pemerintah Syiria Ath-Thawra menduga dinas rahasia Israel, MOSSAD, sebagai otak peristiwa itu.
Gimana brur, sudah terbuka sekarang. Wah engga bisa terbayangkan kalo kamu tidak sadar juga. Soalnya Nabi bersabda, "Barangsiapa yang bangun pagi tapi tidak memikirkan urusan kaum muslimin maka dia tidak termasuk dari kaum muslimin.
Oleh karena itu, apakah kita masih akan diam saja dalam mengahadapi semua ini, marilah kita perjuangkan kembali Khilafah Islamiyah, negara super power kaum Muslimin di seluruh Dunia, yang akan melindungi kita dari hinaan orang-orang kafir. Di bawah lidungan Allah dan Khilafahlah kita akan maju dan membawa dunia ini kepada peradaban yang sesungguhnya, Insya Allah. Ya Allah saksikanlah.

THE CLASH OF CIVILIZATIONS: ANTARA FAKTA DAN SKENARIO POLITIK

Written By Unknown on Saturday, October 27, 2012 | 5:49 AM

Setelah komunisme dianggap runtuh, diskusi-diskusi tentang 'ancaman Islam' atau 'bahaya Islam' bermunculan di media massa. Para ilmuwan Barat sendiri berdebat keras tentang wacana ini. Pada awal dekade 1990-an seorang ilmuwan politik dari Harvard, Samuel P. Huntington, menjadi sangat terkenal dengan memopulerkan wacana "The Clash of Civilizatioan" (Benturan Antarperadaban). Melalui bukunya, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order (1996), Huntington mengarahkan Barat untuk memberikan perhatian khusus kepada Islam. Menurutnya, di antara berbagai peradaban besar yang masih eksis hingga kini hanyalah Islam yang berpotensi besar menggoncang peradaban Barat, sebagaimana dibuktikan dalam sejarah. Tahun 1996, Perdana Menteri Turki Necmettin Erbakan dalam makalahnya untuk konferensi International Institute for Technology and Human Resource Development (IIFTIHAR) di Jakarta mengajukan tema "Dialog Peradaban" (Dialogue among Civilizations) ketimbang "Clash among Civilizations". Tetapi, gagasan alternatif yang juga dikembangkan oleh pemimpin dunia Islam lainnya, seperti Anwar Ibrahim dan B.J. Habibie ini kemudian memudar menyusul terjadinya peristiwa WTC 11 September 2001. Lalu, menyusul kemudian serangan AS ke Afghanistan dan Irak. Proyek besar-besaran AS untuk menjadikan agenda 'perang melawan terorisme' sebagai agenda utama dalam politik internasional terbukti kemudian lebih diarahkan untuk mengejar apa yang mereka sebut sebagai "teroris Islam", yang mereka nilai membahayakan kepentingan Barat, dan AS khususnya. Perkembangan politik internasional kemudian seperti bergerak menuju tesis benturan peradaban yang dipopulerkan oleh Huntington. Dunia diseret untuk terbelah menjadi dua kutub utama: Barat dan Islam. Barat dicitrakan sebagai pemburu teroris, sedangkan Islam adalah teroris atau yang proteroris. Mengapa bisa demikian? 
Seperti dikatakan Huntington, harus dibedakan antara Islam militan dengan Islam secara umum. Islam militan adalah ancaman nyata terhadap Barat. Ia mengatakan, "... tetapi Islam militan merupakan ancaman nyata bagi Barat melalui para teroris dan negara-negara bajingan (rouge state) yang sedang berusaha mengembangkan persenjataan nuklir, serta cara-cara lainnya." Dalam tulisannya di majalah Newsweek Special Davos Edition (2001) yang berjudul "The Age of Muslim Wars", Huntington mencatat: "Terjadinya kemungkinan 'benturan peradaban' kini telah hadir." Ia juga menegaskan, "Politik global masa kini adalah zaman perang terhadap Muslim." Tulisan Huntington di Newsweek itu meneguhkan kembali tesis lamanya (Clash of Civilizations). Ia menekankan bahwa konflik antara Islam dan Kristen--baik Kristen Ortodoks maupun Kristen Barat--adalah konflik yang sebenarnya. Adapun konflik antara Kapitalis dan Marxis hanyalah konflik yang sesaat dan bersifat dangkal. (Samuel P. Huntington, The Clash of Civilization and the Remaking of World Order [New Tork: Touchtone Books, 1996], hlm. 209). 
Dalam dialog dengan Anthony Giddens, Huntington menyebut data dari majalah The Economist, yang memaparkan bahwa dari 32 konflik besar yang terjadi pada tahun 2000, lebih dari dua pertiganya adalah konflik antara Muslim dengan non-Muslim. Karena itu, kata Huntington, Eropa dan Amerika perlu menerapkan strategi bersama untuk menghadapi ancaman-ancaman terhadap masyarakat dan keamanan mereka dari militan Islam. Ia menekankan perlunya dilakukan preemtive-strike (serangan dini) terhadap ancaman dari kaum militan Islam itu. Kata Huntington, "Saya perlu menambahkan bahwa satu strategi yang memungkinkan dilakukannya serangan dini terhadap ancaman serius dan mendesak adalah sangat penting bagi AS dan kekuatan-kekuatan Barat pada saat ini. Musuh kita yang utama adalah Islam militan." 
Nasihat Huntington itu terbukti efektif, dan telah diaplikasikan oleh pemerintah AS. Pada awal Juni 2002, doktrim preemtive strike (serangan dini) dan defensive intervention (interfensi defensif) secara resmi diumumkan. Harian Kompas (14 Juni 2002) menulis tajuk rencana berjudul "AS Kembangkan Doktrin Ofensif, Implikasinya Luas". Melalui doktrin ofensifnya yang baru ini, AS telah mengubah secara radikal pola "peperangan" melawan "musuh". Sebelumnya, pada masa Perang Dingin saat menghadapi komunis, AS menggunakan pola penangkalan (containtment) dan penangkisan (deterrence). Kini menghadapi musuh baru--yang diberi nama teroris--AS menggunakan pola serangan dini dan intervensi defensif, dengan cara membabat dulu semua negara yang dianggap berpotensi membela dan melindungi teroris, urusan hukum internasional belakangan. 
Dengan doktrin kemanan yang baru itu, AS akan merasa leluasa menyerang orang atau organisasi yang dipersepsikan sebagai teroris, atau negara yang dipersepsikan sebagai musuh yang memiliki senjata berbahaya, seperti senjata kimia, biologis, atau nuklir. Dalam bahasa yang lugas, doktrin 'serangan dini' ini ibarat membunuh tikus di lubangnya. Jadi, tidak membiarkan dan memberi kesempatan tikus untuk berkembang dan menyerang. 
Dari kasus doktrin serangan dini ini tampak bagaimana pola pikir 'bahaya Islam' yang dikembangkan ilmuwan (sekaligus penasihat politik Barat) seperti Huntington berjalan cukup efektif. Dengan doktrin itu, AS dapat melakukan berbagai serangan ke sasaran langsung, yang dikehendaki, meskipun tanpa melalui persetujuan atau mandat PBB. Pola pikir Huntington, bahwa Islam lebih berbahaya daripada komunis juga tampak mewarnai kebijakan politik dan militer AS. Padahal, jika dipikirkan dengan serius, manakah yang lebih hebat kekuatannya, apakah Osama bin Laden atau Unisovyet? Mengapa untuk menghadapi negara adidaya Unisovyet yang memiliki kekuatan persenjataan hebat hanya menggunkan kebijakan 'containtment' dan 'deterrence', sedangkan untuk menghadapi militan Islam AS harus menggunakan strategi 'preemtive strike'? Bahkan, saat perang melawan Unisovyet dan sekutu-sekutunya, AS hanya menggunakan istilah "Perang Dingin" (Cold War). Tetapi, menghadapi 'Islam militan' yang tidak memiliki persenjataan dan negara seperti Unisovyet, AS menggunakan istilah "perang" (war), tanpa embel-embel "dingin". 
Di sini tampak bahwa ancaman Islam secara fisik telah dimitoskan oleh para ilmuwan garis keras, seperti Huntington, sehingga gejala paranoid terhadap Islam dan kaum Mulimin tampak dalam berabagai kebijakan negara-negara Barat. Sikap islamofobia merebak dengan mudah di kalangan masyarakat Barat. Pasca peristiwa 11 September 2001, gejala ini makin menjadi-jadi. Masalahnya bukan terletak pada aspek kajian ilmiah yang jujur dan adil, tetapi kajian dan analisis yang memunculkan "Islam militan sebagai musuh utama Barat" dimanfaatkan untuk memberikan legitimasi berbagai kebijakan politik dan militer AS dan negara-negara Barat lainnya. Ujung-ujungnya adalah mengejar kepentingan-kepentingan politik, bisnis, ekonomi, dengan menggunakan jargon-jargon demokrasi, liberalisasi, dan Hak Asasi Manusia. 
Dalam bukunya The Clash of Civilizatioan, Huntington menguraikan beberapa faktor yang telah dan akan meningkatkan panasnya konflik antara Islam dan Barat. Di antaranya ialah sebagai berikut. Pertama, pertumbuhan penduduk Muslim yang cepat telah memunculkan pengangguran dalam jumlah besar, sehingga menimbulkan ketidakpuasan di kalangan kaum muda Muslim. Kedua, kebangkitan Islam (Islamic resurgence) telah memberikan keyakinan baru kepadakaum Muslim akan keistimewaan dan ketinggian nilai dan peradaban Islam dibanging nilai dan peradaban Barat. Ketiga, secara bersamaan, Barat berusaha mengglobalkan nilai dan institusinya, untuk menjaga superioritas militer dan ekonominya, dan turut campur dalam konflik di dunia Muslim. Hal ini telah memicu kemarahan di antara kaum Muslim. Keempat, runtuhnya komunisme telah menggeser musuh bersama di antara Islam dan Barat, dan keduanya merasa sebagai ancaman utama bagi yang lain. Kelima, meningkatnya interaksi antara Muslim dan Barat telah mendorong perasaan baru pada tiap-tiap pihak akan identitas mereka sendiri, dan bahwa mereka berbeda dengan yang lain. (Huntington, The Clash of Civilization, hlm. 211-212). 
Langgengnya konflik antara Islam dan Barat, lanjut Huntington, disebabkan adanya perbedaan hakikat dari Islam dan Barat serta peradaban yang dibangun atas dasar keduanya. Di satu sisi, konflik antara Islam dan Barat merupakan produk dari perbedaan, terutama konsep Muslim yang memandang Islam sebagai way of life, yang menyatukan agama dan politik. Ini bertentangan dengan konsep Kristen tentang pemisahan kekuasaan Tuhan dan kekuasaan raja (sekularisme). Di sisi lain, konflik itu juga merupakan produk dari persamaan. Keduanya merasa sebagai agama yang benar. Keduanya sama-sama agama misionaris yang mewajibkan pengikutnya untuk mengajak "orang kafir" agar mengikuti ajaran yang dianutnya. Islam disebarkan dengan penaklukan-penaklukan wilayah dan Kristen pun juga demikian; keduanya juga mempunyai konsep "jihad" dan "crusade" sebagai perang suci. (Huntington, The Clash of Civilization, hlm. 210-211). 
Dengan cara pandang Huntington seperti itu, bisa dipahami bagaimana sensitifnya Barat dalam melihat perkembangan dunia Islam, dalam berbagai bidang. Sikap Barat yang begitu sengit terhadap program nuklir dan senjata-senjata berat di dunia Islam, dibandingkan dengan isu nuklir di negara Yahudi atau komunis, menunjukkan sensitivitas yang sangat tinggi terhadap dunia Islam. 
Skenario Neo-Konservatif 
Huntington, Bernard Lewis, dan kawan-kawannya dari kalangan ilmuwan noe-konservetif terus berkampanye agar negara-negara Barat lain juga mengikuti jejak AS dalam memperlakukan Islam sebagai alternatif musuh utama Barat, setelah komunis. John Vinocur dalam artikelnya berjudul "Trying to put Islam on Europe's Agenda" (International Herald Tribune, 21 September 2004) mencatat, "... Tetapi Huntington mendesak situasi berhadap-hadapan antara Eropadan Islam menjadi lebih parah." Skenario inilah yang dirancang kelompok "neo-konservatif" di AS, yang beranggotakan Yahudi-Zionis, Kristen fundamentalis, dan ilmuwan neo-orientalis. 
Tentang peran kelompok neo-konservatif dalam perumusan kebijakan luar negeri AS dapat dilihat pada buku The High Priests of War karya Michel Colin Piper (Washington DC: American Free Press, 2004). Piper menyebutkan, belum pernah dalam sejarah AS terjadi dominasipolitik yang begitu besar dan mencolok oleh 'tokoht-tokoh pro-Israel' seperti di masa Presiden George W. Bush. Sebagian besar anggota neo-kon adalah Yahudi. Salah satu prestasi besar kelompok ini adalah memaksakan serangan AS atas Irak, meskipun sebagian elit militer AS dan Menlu Colin Powell sendiri semula menentangnya. Piper membahas peran kelompok garis keras Zionis di AS dengan menguraikan satu persatu latar belakang dan tokoh-tokoh yang terlibat dalam konspirasi neokonservatif ini, seperti Richard Perle, William Kristol, Donald Rumsfeld, Paul Wolfowitz, Rupert Murdoch, juga ilmuwan dan kolumnis terkenal, seperti Bernard Lewis, Charles Krauthammer, dan tokoh-tokoh Kristen fundamentalis, seperti Jerry Falwell, Pat Roberston, dan Tim LaHaye. Cengkeraman atau pembajakan kelompok neo-kon terhadap politik AS sebenarnya meresahkan banyak umat manusia. Mereka berusaha memaksa peradaban dunia ke sebuah "Perang Global" melawan Islam. 
Irak adalah kasus penting. Pada 24 Oktober 2002--beberapa bulan sebelum serbuan AS ke Irak--Michael Kinsley, seorang penulis Yahudi liberal mengibaratkan besarnya pengaruh Israel dalam rencana serangan AS terhadap Irak sebagai "gajah dalam ruangan". "Setiap orang melihatnya (pengaruh Israel), tetapi tidak seorang pun menyebutkannya." (Michel Colin Piper, The High Priests of War [Woshington DC: American Free Press, 2004], hlm. 1). Kinsley tidaklah berlebihan. Para penulis terkenal seperti Paul Findley, Noam Chomsky, sudah berkali-kali mengingatkan bahaya dominannya lobi Yahudi bagi masa depan AS.
Kini, sosok "gajah dalam ruangan" itu diperjelas lagi oleh Michel Colin Piper, dalam bukunya, The High Priests of War. Piper menulis, perang terhadap Irak secara sistematis dirancang oleh sekelompok kecil orang kuat dan memiliki jaringan dengan elemen-elemen Zionis sayap kanan. "Di tingkat atas pemerintahan Bush didampingi dan didukung secara terampil oleh orang-orang berpikiran sama di organisasi-organisasi kebijakan publik, kelompok pemikir, penerbitan, serta lembaga lainnya, yang satu sama lain saling berhubungan kuat, dan sebaliknya juga terkait dengan kekuatan-kekuatan 'likudnik' (partai Likud pimpinan Ariel Sharon) garis keras di Israel." (Michel Colin Piper, The High Priests of War [Woshington DC: American Free Press, 2004], bagian pengantar). 
Apa yang ditulis oleh Piper kemudian seperti menjadi kenyataan. Itu bisa dilihat dengan apa yang kemudian dilakukan oleh AS terhadap Suriah, Iran, dan sebagainya. Sebelumnya, tahun 1994, piper sudah menggegerkan AS dengan bukunya, Final Judgement, yang membongkar peran agen rahasia Israel, Mossad, dalam pembunuhan John F. Kennedy. Menjelang serangan AS atas Irak, ketika itu, Piper sudah mengingatkan bahwa serangan atas Irak dilakukan atas pengaruh lobi Israel, dalam kerangka mewujudkan impian kaum Zionis untuk membentuk "Israel Raya" (Greater Israel/Eretz Yisrael). "Presiden Bush nampaknya dikendalikan oleh fundamentalisme Kristen dan pengaruh kuat lobi Yahudi," kata Piper. (Michel Colin Piper, The High Priests of War [Woshington DC: American Free Press, 2004], hlm. 121).
Sumber: Diringkas dari Wajah Peradaban Barat: Dari Hegemoni Kristen ke Dominasi Sekular-Liberal, Adian Husaini (Jakarta: Gema Insani, 2005), hlm. 131-147.
More on this category »
 
Support : Uki Kifli | Bacalah | Bacalah
Copyright © 2011. Uki Media Network :: Berkembang Dalam Tantangan
Template Modify by Creating Website
Proudly powered by Blogger